Kita atasi persoalan sampah di Kota Jepon dengan Bismillah
PEMERINTAHAN Kelurahan Jepon di bawah kepala kelurahannya, Suji membuat gebrakan pada 40 hari kepemimpinannya. Pak Suji, begitu kami menyapanya, yang ditunjuk Bupati Blora Arief Rohman sebagai Kepala Kelurahan Jepon sejak 29 September 2021, pada Selasa, 2 November 2021 mengadakan pelatihan pengolahan sampah dengan 3R—Reduce, Reuse, Recycle. Pelatihan diikuti tak kurang 20 peserta, dengan masing-masing RW mengirimkan perwakilannya 1 hingga 4 orang. Ada 9 RW di Kelurahan Jepon dengan jumlah penduduk lebih dari 10 ribu jiwa. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi, persoalan sampah menjadi persoalan terberat yang membutuhkan penanganan secara simultan (serentak).
Pelatihan menghadirkan Zulkifli Yusuf, seorang sarjana pertanian yang memiliki pengalaman menyakinkan dalam pengolahan sampah-sampah organik menjadi pupuk maupun pakan ternak, yang materi pelatihannya bisa disimak dalam video ini di youtube.
Dalam pelatihan ini juga disosialisasikan bank sampah sebagai alternatif penanganan persoalan sampah. Solusi mengatasi persoalan sampah rumahan dengan bank sampah memang merupakan pilihan yang paling memungkinkan dan menguntungkan jika dibandingkan pilihan mengatasi persoalan sampah dengan pengadaan tempat pembuangan sementara, atau dikenal dengan singkatan TPS.
Namanya juga TPS, maka mengatasi persoalan sampahnya adalah dengan cara dibuang, bukan dimanfaatkan untuk mengais cuan.
Pilihan mengatasi persoalan sampah dengan cara membuang sampah pada tempatnya pernah dipikirkan lingkungan RW. 6 Kelurahan Jepon dengan pengadaan bak kontainer sampah. Namun, mengatasi masalah sampah dengan membuat TPS bak kontainer justru sempat menimbulkan masalah baru dengan munculnya polemik di lingkungan. Persoalan tersebut adalah lahan.
Prof. Zul, begitu Zulkifli Yusup biasa disapa tak begitu suka cara-cara mengatasi persoalan sampah dengan cara membuangnya. Baginya, tak ada didunia ini yang tak bisa dimanfaatkan, sekalipun itu kotoran manusia. Ia yang biasa membuat pupuk dengan kotoran hewan, justru menyakinkan kepada warga Jepon yang terwakili oleh peserta pelatihan bahwa nyaris tak ada residu dalam sampah-sampah yang diproduksi rumah tangga. Mulai dari kupasan bawang merah, batang hingga daun layu sayur mayur, sisa-sisa makanan yang basi, sampai buah-buahan yang busuk bisa dimanfaatkan. Apalagi botol-botol plastik, pecahan kaca dan barang pecah-belah, kertas dan kardus, dan sampah anorganik lain yang justru memiliki nilai uang.
“Karenanya ibu-ibu rumah tangganya harus pintar memilah sendiri sampah di rumah,” katanya.
Mengatasi persoalan sampah bagi Prof. Zul adalah dari dalam rumah itu sendiri. Bagaimana individu di rumah bisa terlatih untuk mengetahui, mana sampah yang bisa dimanfaatkan dan mana yang harus dibuang, mana yang bernilai uang dan mana yang dibuang. Bila uang, jangan dibuang. Bila berpeluang, jangan pula dibuang. Mungkin ini kira-kira intisari dari pelatihan pengelolaan sampah di wilayah Kelurahan Jepon.
“Mulailah dari diri sendiri!” Demikian Prof. Zul menekankan.
Memulai gerakan sesarengan mbangun Kota Jepon yang bersih, sehat, dan rapi diawali dari 2 November 2021. Tanggal ini menjadi momen penggerak di salah satu RW yang ada di Kelurahan Jepon usai mendapat pelatihan dan menerima sosialisasi bank sampah. Disepakatilah pembentukan bank sampah Berkah Sampah di level unit bank sampah kelurahan. Dengan nama tersebut, lingkungan RW tersebut ingin menebarkan keberkahan dari sampah-sampah yang dihasilkan rumah tangga.
“Saya siap menyediakan pekarangan rumah saya untuk lahan pengumpulan sampah, baik organik maupun anorganik,” kata Kokok, panggilan Sri Widyoko yang siap bertanggung jawab pada keuangan Bank Berkah Sampah dengan posisinya sebagai bendahara.
Bukan tanpa alasan Kokok bersedia menjadikan pekarangan rumahnya untuk pengumpulan sampah-sampah an maupun sampah organik. Ia yang berkegiatan petani terpikat untuk menerapkan pengetahuan pembuatan pupuk yang diberikan Prof. Zul dalam pelatihan tersebut. Tinggal pelatihan praktiknya.
“Nanti kita undang Prof. Zul untuk memberikan pelatihan secara praktik,” kata Kokok.
Tentu ini baru proses awal dari sebuah tatanan sosial ekonomi baru dalam mengatasi persoalan sampah di Kelurahan Jepon. Namun setidaknya sudah muncul semangat dari akar rumput untuk mengatasi persoalannya sendiri, sebagaimana pesan Prof. Zul dalam pelatihan tersebut.
“Biar pemerintah kerja, kerja, dan kerja. Kita (warga) belajar, belajar, dan belajar.”
Belajar yang dimaksud Prof. Zul mungkin adalah belajar mengatasi persoalan sendiri.
Maka, mari kita atasi persoalan ini dengan Bismillah. Dengan Bismillah juga kita terus jaga semangat untuk mengatasi persoalan tersebut. ***