Belajar, modal utama wartawan
SIAPA bilang menjadi wartawan itu mudah? Mungkin yang mengatakan mudah itu tidak pernah menghadapi situasi yang mengharuskan dirinya bersikap independen dari sumber-sumber berita yang hendak ditulis. Bisa jadi yang menganggap mudah itu adalah mereka yang tak punya kemampuan bekerja di sektor-sektor lain yang menuntut keterampilan-keterampilan khusus. Atau bisa saja anggapan mudah itu berangkat dari ini: cukup menggunakan media sosial atau membuat blog untuk memublikasikan tulisannya, lantas sudah menganggap dirinya sebagai wartawan.
Padahal, tak semudah itu kawan, untuk menjadi wartawan. Perlu keterampilan teknik tertentu, kemampuan beradaptasi dengan sikap dan cara berpikir dari wartawan yang menerjemahkan kode etik dalam kesehariannya, dan bisa bertanggung jawab secara moral hingga sosial kepada audiens-nya.
Dari hasil Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang dilaksanakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Jawa Tengah di Kabupaten Blora pada Kamis dan Jumat, 2 hingga 3 Desember 2021, saya menemukan banyak dari pesertanya yang masih ada di antara berkompeten dan tidak berkompeten. Aturan penilaian disebutkan salah satu penguji yang kebetulan menjadi penguji saya, R. Widiyartono, berubah dari angka satuan menjadi angka pembulatan. Nilai ujian untuk dinyatakan berkompeten adalah mendapatkan angka 70 ke atas, sementara dinyatakan tidak berkompeten mendapatkan angka di bawah 70. Untungnya, peraturannya disebutkan Pak Wid, panggilan akrab saya kepadanya, tidak lagi angka satuan: seperti 69, 68, atau 71, 72. Penilaian dibulatkan ke angka-angka berkelipatan 5, seperti 65, 70, atau 75. Pastinya, saya yang baru pertama ikut dalam UKW setelah lebih belasan tahun jadi wartawan, dari 10 mata uji semuanya mendapatkan nilai dari Pak Wid 75 ke atas. Tak ada satupun yang bernilai 70.
Tapi dari hasil yang disampaikan Pak Wid saat acara penutupan UKW pada Jumat, 3 Desember 2021, banyak yang mendapatkan nilai 70, dan ada 3 peserta yang mendapatkan nilai di bawah 70. Tiga peserta sudah bisa dipastikan tidak berkompeten untuk jadi wartawan. Sementara peserta yang mata ujinya mendapatkan nilai 70, posisinya ada di antara kompeten dan tidak kompeten. Tak heran jika para penguji: Pak Wid, Amir Machmud, dan Hendro Basuki dalam penutupan UKW berpesan agar wartawan selalu belajar. Pesan ini bagi saya adalah mengingatkan saya untuk terus belajar bagaimana bersikap independen seperti yang digariskan dalam KEJ (Kode Etik Jurnalistik) poin pembuka: Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
Karena tak mudah, Kawan, bersikap independen itu. Sikap ini melampaui sikap netral yang masih bisa bias kepentingan untuk media dan wartawan itu sendiri. Bahkan Andreas Harsono yang saya pernah mengikuti workshop-nya tentang 9 elemen jurnalistik yang dicetuskan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel memberikan gagasan untuk bersikap asosial agar wartawan terjaga independensinya. Gagasan yang menurut saya hampir mustahil kita lakukan sebagai makhluk sosial.
Dalam kesempatan saya mewakili peserta memberikan kesan dan pesan dalam penutupan UKW tersebut, saya memberikan kesan tentang murah hati kepada pengujinya. Sementara kepada peserta, saya berpesan untuk berterima-kasihlah kepada para penguji yang bermurah hati memberikan penilaian berkompeten untuk peserta yang nilainya 70. Karena bisa jadi nilai sesungguhnya adalah 69 atau 68. Karena pembulatan, maka dinaikkan ke 70. Dengan demikian dinyatakan kompeten.
Bagaimana berterima-kasihnya? Dengan cara belajar. Bagaimana cara membangkitkan semangat untuk terus belajar? Orang Jawa bilang, aja rumangsa isa ananging isaa rumangsa. Merasakan bila tulisannya belum memenuhi kaidah-kaidah penulisan berita. Merasakan bila tulisannya belum akurat dan perlu disunting.
“Banyaklah membaca,” demikian salah satu penguji berpesan, dan melanjutkannya, “buku-buku jurnalistik. Gak perlu Bill Kovach, ketinggian buat kalian.”
Bill Kovach yang dimaksud adalah penulis buku 9 Elemen Jurnalistik, yang ditulis bersama Tom Rosenstiel. Mereka juga menulis buku Blur-Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi, yang bukunya pernah saya bagi-bagikan di whatsapp group saya melalui kuis.
Dengan membaca buku-buku jurnalistik, wartawan bisa belajar mengaplikasikannya dalam kesehariannya menjalankan tugas-tugas jurnalistiknya. Sebab, seperti kata Aristoteles, “The purpose of knowledge is action, not knowledge.” Tujuan berpengetahuan (termasuk dari membaca) adalah aksinya, tindakannya, atau apa yang dihasilkan dari berpengetahuan (membaca) tersebut. Jika membaca saja belum, bagaimana bisa sudah menulis? ***