Merawat Indonesia dengan cinta kasih dan kemanusiaan
SAYA dikejutkan dengan pertanyaan kemenakan saya pada neneknya, yang ingin tahu ihwal film Pengkhianatan G30S/PKI. Ia berusia 12 tahun, duduk di kelas 6 SD. Pada Senin siang, 30 September 2019, gurunya memberitahu murid-muridnya jika malam akan ada pemutaran film tersebut. Tak ada imbauan untuk nonton film besutan sutradara Arifin C. Noer itu, apalagi perintah. Gurunya hanya memberi tahu.
Usai magrib, saya menghampirinya dan mempertanyakan kembali maksud ia bertanya itu. Penasaran dan sekedar ingin tahu, atau ada perintah gurunya. Nyatanya ia hanya penasaran. ia sempat mengaku jika ia pernah memutar film itu di channel youtube. Mungkin di kelas 5 ia diberitahu gurunya tentang film tersebut dan memberitahukannya jika film itu bisa dijumpai di youtube. Kebetulan di rumah ada akses internet yang bebas dan berkecepatan 30 Mbps.
"Aku sudah tahu," sahutnya saat saya memberitahukan jika film tersebut horor.
"Aku skip-skip saja nontonnya," sambungnya merujuk pada dipercepat memutar filmnya tiap 5 hingga 10 detik dengan mengetuk layar gawai di layar youtube sebelah kanan tengah.
Ia terus mengejar saat saya bilang film itu banyak tidak benarnya.
"Tapi kok panjang sekali filmnya," protesnya.
Saya terus memutar otak bagaimana cara menjelaskannya agar ia paham jika untuk mengetahui kebenaran sejarah tidak cukup dengan film. Saya tawarkan untuk membaca buku jika nanti sudah waktunya duduk di SMA.
"Kalau Pakde cerita menunggu aku SMA, kan lama sekali," demikian protesnya.
Saya tak henti memutar otak untuk menjelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak usia SD. Saya juga sempatkan untuk menyodorkan cerita tentang perseteruan cebong dan kampret di jaman terkini untuk menggambarkan kondisi di jaman itu. Ia sedikit banyak bisa menerima dengan gambaran cerita itu.
Saya coba buka cakrawala imajinasinya dengan bercerita soal ia dan 2 saudaranya sedang berantem. Dua saudara ini memusuhi dia sebagai kakak tertua. Kebetulan si adik yang tengah yang masih kelas 3 SD turut mendengarkan cerita saya.
"Ini kamu sebagai kakak tertua itu PKI, lalu si Kiki--adiknya pas--adalah seorang yang agama, dan si Robi--adiknya bungsu--adalah nasionalis," saya coba menerangkan dengan mengenalkan istilah-istilah baru buatnya.
"Si Kiki sama Si Robi mengeroyok kamu yang tua. Terus kamu kalah, terus kamu tak hentinya dimusuhi sama si Kiki dan si Robi, sampai kalian tua. Karena kamu kalah, kamu tidak punya anak. Terus, si Kiki sama si Robi ini punya anak. Lalu anak mereka ini disuruh membenci kamu dan memusuhi kamu sampai kamu tidak diakui pernah sebagai Pakde mereka. Nah seperti itu yang sebenarnya terjadi. jadi film itu diputar agar kamu tidak diakui sebagai pakde mereka."
Ia manggut-manggut. Mungkin sudah sedikit mengerti. Tinggal kelak jika sudah tiba usianya untuk mempelajari sejarah bangsa dan negara, menyodorkan buku-buku yang relevan yang ditulis dengan proses yang ketat melalui penelitian, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Tentu dari dua belah pihak yang berseteru habis, yakni dari kalangan agama dan kalangan komunis.
Namun sebelum menyodorkan hal-hal yang berat itu, setidaknya kesadaran anak-anak perlu dibangun dengan yang ringan-ringan dan mudah dimengerti, tanpa menyodorkan kebencian-kebencian yang bisa tertanam secara tidak sadar. Karenanya saya memberika cerita tentang hubungan persaudaran untuk mereduksi permusuhan.
PKI telah habis. Buat apa dirawat kebencian terhadap mereka. Justu timbulnya adalah cebong dan kampret, dan tak habis-habis untuk konsumsi 5 tahunan. Silakan buka kembali bagaimana isu PKI dipakai untuk menyerang kelompok cebong, yang kemudian dibalas dengan isu khilafah untuk serangan balik ke kampret.
Akibatnya, film yang dulu sudah dihentikan oleh Yunus Yofiah saat menjabat Menteri Penerangan di masa peralihan Habibie ke orde reformasi, justru diputar kembali di orde reformasi untuk menyakinkan publik jika jokowi bukanlah keturunan PKI.
Bangsa ini memang terlalu bodoh untuk dipermainkan secara politik. Bangsa yang miskin cinta kasih dan rasa kemanusian ini gampang terjerumus di lubang kebencian yang tiada habis untuk merawat permusuhan antar satu golongan dengan golongan lainnya. Bisa disaksikan, bagaimana kejadian Wamena dengan mudahnya akan digeser ke konflik antar golongan kesukuan. Beruntung kita masih memiliki orang-orang yang membangun kesadarannya untuk menjaga cinta kasih dan kemanusiaan.
Bangsa ini perlu memperbanyak orang-orang yang membangun kesadaran untuk tidak menanamkan kebencian dalam diri agar tidak mewariskannya ke generasi anaknya. Termasuk untuk tidak membenci sesuatu yang sudah tidak ada, yakni Partai Komunis Indonesia. Mulailah dengan tidak membenci PKI lagi. Mulailah untuk tidak memiliki ketakutan akan adanya penyebaran paham komunisme. Mulailah memunculkan ketakutan akan meluasnya perilaku korupsi dan menyebarnya kegemaran mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Dengan demikian akan bisa dimudahkan untuk membuat lompatan kemajuan di Indonesia. Bisa jadi kesulitan yang sering kita alami lantaran kita sulit untuk menghilangkan kebencian pada orang atau kelompok tertentu. Kita bahkan sulit membenci orang atau kelompok dari perilakunya. Ditamba sulit pula untuk mengedepankan cinta kasih dan kemanusiaan dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Akibatnya banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapi bangsa dan negara kita. (*)