Merawat ibu yang stroke dengan cinta
IBUMU itu Tuhan yang nampak, demikian pesan teman lama saat bersua lepas rindu setelah bertahun-tahun tak jumpa. Seorang teman yang lain berucap: Ibumu adalah madrasatul ula dirimu. Pesan dan ucapan itu membekas dalam batin, mengingat aku tak jarang berselisih paham dengan ibuku. Dalam benak aku berpikir, mungkin ibuku mendidik aku untuk menjadi orang yang sabar dengan caranya. Soal ujiannya adalah dirinya sendiri dengan egoisnya yang tinggi sebagai seorang ibu yang melahirkan anak-anaknya. Keinginannya yang masih macam-macam di usia senja, semisal ingin memiliki aset properti yang menghasilkan pundi-pundi uang tanpa mengukur kemampuan diri, adalah salah satu bentuk soal ujian kesabaran untuk anak-anaknya. Belum lagi urusan menimbun barang-barang yang tak terpakai, memenuhi ruang di rumah. Ia akan marah saat anaknya membuang barang-barang tersebut.
Ia seorang pekerja keras, dan bandel. Merasa dirinya masih tangguh, tak jarang ia melakukan pekerjaan berat. Beberapa hari sebelum dirinya divonis stroke, ia mencangkul di bawah guyuran hujan pada malam hari saat saluran air tertimbun pasir di depan rumah. Mengidap hipertensi, ia tak sadar jika pada titik waktu tertentu, hipertensi akan menyerang jantung atau syaraf otak yang bisa mengakibatkan kematian.
“Ibu selalu berdoa, kalaupun nanti berpulang ke Rahmatullah, inginnya seperti bapakmu. Ibu tak ingin merepotkan anak-anaknya untuk merawat ibu jika terkena stroke, seperti yang dialami mbah wedokmu,” katanya setengah berbisik pada malam saat hari itu gejala stroke terlihat.
Malam itu, Sabtu, 8 Juli 2023. Sejak petang hingga jam 8 malam, ia sudah kencing beberapa kali. Pagi harinya setelah bangun, tubuhnya sudah terasa lemas. Langkah kakinya sudah terseok. Seharian itu ia tak lagi mampu mengawasi atau membantu pekerja bangunan yang sedang mengerjakan renovasi rumah. Saat aku tanyakan ke teman sekolah yang jadi dokter, ibu diduga terkena stroke. Ia pun serasa tak percaya saat aku kabarkan tentang ini. Ia menolak untuk dibawa ke rumah sakit saat itu juga. Ia masih bertahan di rumah, dan ingin esoknya saja dibawa ke rumah sakit. Beberapa kali kencing lagi, ia sudah tak mampu berjalan ke kamar mandi. Aku yang awam dengan stroke, coba cari di mesin pencari internet. Informasi tentang stroke aku dapatkan. Ada golden time 4 hingga 5 jam saat serangan awal stroke untuk segera dibawa ke rumah sakit. Dinihari itu juga akhirnya ia mau aku bawa ke rumah sakit. Sekalipun begitu, ia masih memaksa diri untuk beol di toilet kamar perawatannya. Akibatnya ia sempat hampir pingsan saat di kamar mandi ruangan.
Ibuku memang seorang yang tangguh. Keadaan lah yang membuatnya harus menjadi perempuan yang tangguh. Sejak ia sekolah di SMP 2 Blora, ia memilih haluan berbeda dengan bapaknya dan tetangga-tetangganya yang berhaluan PKI. Ia lebih memilih terlibat aktif di organisasi sayap PNI di bidang seni budaya. Setiap pulang sekolah naik kereta, ia harus turun di kawasan Jepon timur yang merupakan basis PNI. Lalu diantar teman-temannya berjalan kaki melintasi kawasan Jepon barat, Pedukuhan Kidangan yang menjadi basis PKI.
Sama bapaknya, ia dimarahi karena lebih memilih aktif di organisasinya PNI ketimbang PKI. Kelak, bapaknya akan berterima kasih padanya karena nyawanya diselamatkan anaknya setelah PKI kalah dalam pertarungan politik usai geger September 1965. Si Bapak urung diciduk militer karena dihalangi Si Anak yang aktif di PNI. Sementara adik Si Bapak terkena eksekusi mati oleh aparat di hutan Cabak. Adik Si Bapak ini, istrinya aktif di Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) Jepon, organisasi perempuan sayapnya PKI. Saat diciduk tentara, Si Suami maju menggantikan nyawa Si Istri.
Uji ketangguhan ibu masih berlanjut pasca-1965. Di usia yang belum genap 20 tahun pada masa itu, ia harus mengurus keperluan suaminya yang seorang tentara yang di penjara akibat difitnah memiliki hubungan dengan PKI. Selama 3 tahun, rutin setiap bulan ia naik kereta ke Ambarawa mengunjungi suaminya yang ditahan di Benteng Pendem peninggalan Belanda, tempat tahanan politik rezim militer orde baru. Sebelum ke Ambarawa, ia ke Pomdam di Semarang terlebih dulu untuk meminta ijin aparat buat menjenguk suaminya. Dengan bekal Ilmu Petek Jempolan yang diajarkan adik simbahnya, ia pun dipermudah untuk mendapatkan ijin. Sementara lainnya, dipersulit, bahkan dimarah-marahi. Maklum, tentara maupun polisi saat itu sangat benci dengan keluarga yang dituduh PKI. Padahal, mereka juga keluarga tentara.
Ibu dipinang seorang tentara asal Banyumas yang berdinas di Batalyon 410/Alugoro saat masih duduk di bangku SMP 2 Blora, beberapa tahun sebelum peristiwa 1965. Oleh bapaknya, tentara yang meminang dijanjikan waktu 3 tahun lantaran ibu masih sekolah. Sepulang dari penugasan konfrontasi dengan Malaysia di Kalimantan, Pak Slamet, nama tentara itu melangsungkan pernikahannya dengan ibu. Pada usianya yang masih belasan, ibu diboyong ke Banyumas saat suaminya mendapat penugasan sekolah bintara pelatih di Magelang. Peristiwa 1965 membuat nasib ibu berubah. Suaminya difitnah terlibat dengan PKI, dan ditahan. Ibu lalu memutuskan pulang ke Blora.
Di kampung halaman, ia pun bekerja menjadi penjahit. Orderan pun laris. Uang hasil dari menjahit ia kumpulkan, sebagian ia tabung untuk ia belanjakan buat keperluan suaminya di penjara. Setiap bulan ia naik kereta ke Semarang dan Ambarawa untuk menjenguk suaminya, membawakan keperluan hidup untuk suaminya selama di penjara.
Tak sekedar mencari uang dari menjahit, ibu mencari uang juga dari jualan togel. Ia bersedia menjadi pengepul setelah ditawari bandar untuk menjual nomer. Pelanggannya banyak, mulai dari warga biasa hingga polisi, bahkan peseka (polisi hutan) yang bermarkas di Cabak. Berbondong-bondong polisi hutan ini naik mobil patroli menuju Jepon untuk beli nomer di Ibu. Maklum, ibu saat mudanya termasuk berparas cantik dan jadi primadona. Apalagi setelah ibu memutuskan untuk menjanda setelah 3 tahun mengurus suaminya yang di penjara. Semakin banyak pembeli nomer yang berdatangan. Salah satu pembeli nomer yang rajin ngramal di tempat ibu adalah bapak yang seorang polisi. Dari sinilah ibu bertemu dengan bapak yang menduda beranak satu.
Upaya bapak untuk mendapatkan ibu tak mudah. Sekalipun bapak menyumbang dengan mendalang wayang kulit tak dibayar di pernikahan adiknya ibu yang mendapatkan suami tentara, bapaknya ibu tak bersedia menerima pinangan bapak. Alasannya, bapaknya ibu tak suka dengan polisi. Bapaknya ibu lebih suka dengan tentara, sekalipun bapak bisa mendalang wayang kulit. Namun dengan kegigihannya, bapak akhirnya diterima juga sebagai menantunya. Kelak, bapak lah yang paling gemati ke keluarga ibu.
Setelah menikah dengan bapak, ibu kembali banting tulang setelah tak lagi menerima orderan menjahit dan jualan togel. Gaji polisi bapak tak seberapa untuk menghidupi keluarga. Ia pun berdagang kain. Sebagian dijual kontan, sebagian dikreditkan. Perlahan usaha berdagang kain membesar. Setelah memiliki kecukupan modal, ia pun beralih jualan mebel. Memiliki kenalan di polisi hutan, ibu lalu mencari bahan-bahan kayu untuk memproduksi mebel. Ia pekerjakan tukang, dan mulai menjual mebel produksinya. Usahanya mulai berkembang pesat. Tak puas hanya usaha mebelan, ibu menerima tawaran untuk usaha transportasi. Sayang, usaha ini mengalami kegagalan. Usaha ini tergolong susah dikontrol. Apalagi ia tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang mesin kendaraan. Berkali-kali ia dikerjai sopir dan kernetnya, hingga akhirnya mengalami kebangkrutan dengan menyisakan hutang di berbagai bank. Bapak sempat mengusulkan untuk menjual aset rumah tanah, namun ibu menolaknya dan lebih memilih merantau ke Palembang, menyusul buleknya, istri adiknya bapak yang diekskusi saat pembersihan PKI 1965.
Di Palembang, ibu tidak terlalu sukses. Beberapa tahun kemudian ia pulang kampung, dan berbekal modal bank yang diambilkan bapak, ibu mulai berdagang lombok di Pasar Cepu. Perlahan usaha dagangnya mulai membuahkan hasil. Bangun dinihari, menyortir setoran lombok dari petani, lalu membawanya ke Pasar Cepu pada waktu subuh ia lakoni bertahun-tahun. Tak hanya di Pasar Cepu, ia juga menjual lomboknya hingga Bojonegoro. Usaha dagang lomboknya berkembang pesat. Hutang-hutang mulai ia lunasi, anak-anaknya ia kuliahkan, dan renovasi rumah bisa ia lakukan.
Usaha dagang lomboknya meredup setelah 2007, dan mencoba membuat rumah makan di rumah. Namun usaha ini gagal. Beberapa tahun kemudian, ia coba membuat usaha kos-kosan di rumahnya. Kekurangan modal, usaha kos-kosan akhirnya mangkrak. Tiga tahun sebelum terkena stroke, ia coba membuka usaha dengan membangun aset properti yang bisa disewakan. Modalnya dari mengambil bank dan hutang sana-sini. Lagi-lagi kekurangan modal, properti ini masih belum kelar juga, hingga akhirnya ia terkena stroke.
Kini ia harus menerima kenyataan, dan harus membiarkan anak-anaknya untuk gantian mengambil kendali urusan pembiayaan keperluan rumah. Untungnya, ada anaknya yang sukses di perantauan yang ambil peranan dalam membiayai kesembuhannya, sementara anaknya yang lain ambil peranan dalam perawatan.
Kami, anak-anaknya ibu kerja tim dalam proses penyembuhannya dari stroke. Ada cinta yang kami berikan untuk kesembuhan ibu. Ada kelembutan yang harus aku berikan untuk menenangkan batinnya dalam proses penyembuhan. Ketenangan batin diperlukan penderita stroke untuk mempercepat proses penyembuhannya. Apalagi semangatnya untuk segera bisa berjalan kembali dan beraktivitas lagi begitu tinggi. Ketangguhannya sejak remaja menjadi bekal untuk mempercepat kesembuhannya.
Dengan cinta, anak-anaknya tak pernah mengeluh untuk mengganti popoknya pada dinihari atau mengantarkannya ke toilet. Dengan cinta, tak ada lelah dan berat untuk bangun jam 1 atau jam 2 dinihari buat mengurus ibunya. Demikian pula dengan cinta seorang ibu tak akan berat juga untuk bangun jam yang sama buat mengurus anaknya yang masih bayi. Energi akan selalu muncul dalam cinta.
“Kamu harus bersyukur masih bisa mengurus ibumu yang sakit, dibandingkan aku yang ditinggalkan ibu secara tiba-tiba,” ucap seorang teman yang baru kukenal di salah satu kantor BUMD Kabupaten Blora, seraya menambahkan untuk mengganti zikir Alhamdulillah yang kuajarkan ke Ibu dengan sholawatan.
Ada mahabbah dalam sholawat, ujarnya.
Get well soon and long life, Mom. We love you.