Membersamai ibu dalam keterpurukan
Puncak dari cinta adalah keikhlasan. Bagi relasi antara manusia, ia akan membersamai orang yang dicintainya tak hanya dalam suasana gembira namun juga dalam suasana sedih, bahkan dalam kondisi terpuruk sekalipun. Adalah bohong ketika seseorang yang mengaku cinta namun lari meninggalkan orang yang diklaim dicintainya dalam keadaan terpuruk, lalu kembali datang saat orang yang diklaim dicintainya dalam keadaan berjaya.
SORE itu ibu kembali melontarkan ucapan yang membuatku tercekat. Ia mengeluh dengan kondisinya yang membuatnya jadi merepotkan anak-anaknya yang merawatnya dalam keadaan stroke. Hari itu adalah hari ke-29 ia mengalami stroke. Tangan kirinya sudah lebih dari separo telah pulih. Sementara kaki kirinya belum sampai separo pulihnya.
"Kaki masih berat kayak ditindih karung beras," keluhnya.
Ia memang sudah bisa jalan sejauh 6 meteran tanpa alat bantu. Sementara dengan alat bantu sudah bisa jalan dari pembaringan hingga kamar mandi. Tapi ia merasa ingin bisa jalan lebih jauh lagi. Tak heran jika ia merasa perkembangan pemulihan stroke-nya berjalan lambat. Padahal bagi ukuran kebanyakan mereka yang terkena stroke, kerap kali membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan tahunan untuk bisa pulih kembali. Itupun hampir mustahil bisa pulih normal seperti sediakala.
"Ibuk harus ikhlas menerima keadaan. Jika Ibuk terus mengeluh dengan keadaan sekarang, percuma kami merawat. Sudah menjadi tugas anak yang merawat ibunya dalam keadaan begini. Begitulah alam bekerja. Saat anak masih bayi, ibuk yang merawat dan membesarkan. Saat ibuk tua dalam keadaan begini, gantian anak yang merawat dan menyembuhkannya," tuturku dengan suara tercekat.
Sepanjang hidupnya, Ibu tak pernah menggantungkan nasibnya pada orang lain. Terdidik mandiri sejak menjanda di usia belasan tahun gara-gara peristiwa politik 1965, ia justru mengambil tanggung jawab sebagai sulung dari 5 bersaudara untuk membiayai sekolah adik-adiknya. Tak heran jika di kemudian hari ia tak ingin merepotkan anak-anaknya. Bahkan ia menginginkan agar kematiannya seperti Bapak yang mendadak dengan alasan tak ingin merepotkan anak. Sama seperti Ibu, Bapak meninggal juga faktor hipertensi yang tak pernah dikontrol. Bedanya, hipertensi Bapak menyerang jantung yang menyebabkan kematiannya pada 2003.
"Waktu Ibu merawat nenek yang stroke, menggendongnya," kisah Ibu tentang emaknya, "bapakmu bilang ke Ibu agar kematiannya tidak merepotkan istrinya. Terkabul. Ibu menginginkan yang sama, biar tak merepotkan anak-anaknya."
"Jalan kematian setiap manusia tidak sama. Dan aku masih menginginkan ibu berumur panjang, sembuh dari stroke, dan bisa beraktivitas lagi," ucapku saat membersamainya terlentang di pembaringan yang sesaat kemudian terlintas aktivitas ringan seperti berkebun hidroponik dan menjahit yang nantinya ia lakoni.
Bisa membersamainya dalam keadaan terpuruk adalah kebahagiaan tersendiri buatku, apalagi ketika batin dalam keadaan sendirian. Membersamainya menjadi hiburan tersendiri buatku di saat kesepian melanda hati. Bagiku, Tuhan terasa lebih dekat dalam keadaan seperti ini. Bisa jadi jalan menemukan Tuhan adalah membersamai orang yang melahirkanku di dunia saat dalam keadaan terpuruk seperti ini.
"Ibuk nikmati saja sakitnya. Temukan kenikmatan Allah yang memberi Ibuk sakit. Di situlah ikhlas akan Ibuk alami. Kalau Ibuk ikhlas, tidak ada ganjalan dalam batin, kami pun akan merasakan hal yang sama," pintaku padanya.
Hubungan batin antara aku dan ibu semenjak ia sakit memang menguat. Pada malam-malam pertama ia masuk rumah sakit, ia selalu ingin aku temani. Saat aku tak ada jelang jam tidur, ia akan mencariku. Beberapa kali ia mengalami penurunan fungsi otak dengan delusi atau halusinasi pada hari-hari pertama stroke terjadi. Sisa-sisa penurunan fungsi otaknya masih ada hingga dirawat di rumah.
Hubungan batin antara anak dan ibu pada akhirnya akan bisa membuat si Ibu bersedih ketika anaknya dirundung malang. Inilah yang terjadi ketika aku berkisah tentang hari di mana aku ke rumah seorang perempuan yang aku ingin mencintainya, namun kemudian ditemui bapak si perempuan, menyampaikan jika anaknya sudah punya pacar. Kesedihan itu turut memengaruhi kondisi tubuh ibu yang dalam keadaan lemah. Semenjak itu, aku tak ingin menunjukkan kesedihan di hadapannya. Biarlah sedihku milikku, dan gembiraku miliknya.
Kerap kali kegembiraannya aku bangkitkan dengan mengucap Assalamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis shalihin saat masuk rumah dari pulang kerja. Setelah itu membaca surat Al-Ikhlas 3 kali. Ini semua adalah ajarannya untukku. Entah dapat ajaran dari mana, aku mengikutinya demi menggembirakannya. Mungkin dari tontonan di televisi di pagi hari usai ia salat Subuh. Atau mungkin dari pengajian ibu-ibu yang ia ikuti. Namun satu yang pasti, meski belum menemukan hikmah apa dari ajarannya untuk mambaca surat Al-Ikhlas saat memasuki rumah, aku mulai menjadikan ibuku sebagai pusaka dalam hidupku. Demikianlah salah satu ajaran yang aku dapat dari Mbah Nun untuk anak dan cucu Maiyah. Dalam berbagai kesempatan, Mbah Nun kerap berkisah bagaimana kedekatannya dengan orang tuanya, terutama dengan ibunya. Ia tak jarang minta nasihat dari ibunya sebelum memutuskan sebuah perkara.
Kini, ibuku pusakaku itu sementara tak lagi bisa menikmati Islam Itu Indah di televisi, dan tak lagi bisa ikut dalam pengajian ibu-ibu. Ia mengalami stroke 3 hari setelah Mbah Nun mengalami hal yang hampir sama pada Kamis, 6 Juli 2023. Keduanya kini berhenti beraktivitas sementara, berada dalam pemulihan.
Get well soon, Mom. We love you.