Menulis Berita dengan Sudut Pandang
DALAM beberapa hari terakhir saya melalui email redaksi@wartablora.com menerima kiriman berita. Pertama dari Kamaba Yogyakarta, dan kedua dari Desa Sempu, Kunduran. Saya belum memuat berita pertama karena sulit menemukan sudut pandang (tulisan) berita yang menarik, selain 3 paragraf dari 7 paragraf yang ditulis berisi makalah. Sementara berita kedua saya muat dengan menambahi sumber yang masih relevan dengan materi berita. Saya perlu menambah karena tulisan berita yang dikirim terlalu pendek.
Hal pertama yang dilakukan penulis berita sebenarnya adalah menentukan sudut pandang. Sama halnya menulis makalah, sudut pandang akan menentukan judul dari berita. Bedanya dengan makalah, sudut pandang berita perlu memperhatikan informatif tidaknya berita yang akan ditulis. Semakin kaya dengan informasi, semakin menarik berita dibaca. Sementara makalah akan memperhatikan hal-hal detail yang melatar-belakangi masalah yang diajukan dan bagaimana pemecahannya untuk perbaikan agar ke depan masalah tidak terjadi lagi.
Sudut pandang juga akan memperlihatkan keberpihakan dari penulis berita. Sebagai contoh ada informasi tentang ditangkapnya pelaku pencurian, dan pelakunya ternyata seorang pengangguran. Ketika sudut pandang ini diambil, penulis berita ingin menunjukkan bahwa pengangguran erat kaitannya dengan tindak kriminal pencurian. Penunjukkan ini bisa dimaksudkan untuk mempengaruhi kebijakan-kebijakan dari negara dalam menekan angka kriminalitas pencurian.
Sudut berbeda bisa diambil dari peristiwa yang sama. Masih mengambil contoh di atas, sudut pandang yang akan diambil oleh penulis berita dari Humas Polisi akan berpihak pada proses ditangkapnya pelaku pencurian oleh polisi. Sudut ini hendak memperlihatkan bahwa polisi benar-benar bekerja keras dalam pengungkapan pencurian.
Sudut pandang akan menentukan penyusunan 5W+1H yang dikenal dalam penulisan berita. Dalam dua sudut pandang di atas di peristiwa yang sama, yakni pencurian, sudut pertama akan menyusun why (mengapanya), sementara sudut kedua menyusun terlebih dulu what (apanya).
Kecuali peristiwa yang teragendakan, saya lebih suka menyusun sudut pandang dengan why untuk peristiwa-peristiwa insidental. Bagi saya, dengan menyusun sudut pandang dari mengapa peristiwa terjadi akan melatih otak untuk berpikir tentang kedalaman peristiwa, baik itu hukum, politik, ekonomi, budaya, maupun sosial. Sementara untuk peristiwa-peristiwa alam, semisal bencana alam, ada kalanya saya menyusun dari apanya (kejadiannya), ada saatnya juga menyusun dari mengapanya yang biasanya akan saya ambil saat terjadi peristiwa kebakaran.
Untuk peristiwa yang teragendakan, semisal sosialisasi Kamaba di sekolah-sekolah tentang perkuliahan di Yogyakarta, akan lebih menarik berita disusun dari sudut pandang apanya. Sudut bisa diambil apanya yang enak dan menarik berkuliah di Yogyakarta. Ketika sudut ini diambil, eksplorasi bahan untuk memperkaya informasi yang relevan dalam berita akan mengalir dengan sendirinya. Semisal, kuliah di Yogyakarta itu murah biaya hidupnya. Atau misalkan kuliah di Yogyakarta akan dibantu kemudahannya oleh Kamaba. Dengan memudahkan, anak-anak sekolah yang ingin mencicip kehidupan di Yogyakarta tak lagi was-was akan menemui kesulitan. Sementara peristiwa sosialisasi ini sendiri akan menjadi insert selayaknya bunga-bunga dalam berita.
Berita, bagaimana pun layak diperlakukan untuk lebih bermanfaat buat yang membacanya. Bukan sekedar untuk kuncara-kuncara-nan bagi yang ditulis namanya dalam berita, penulis berita perlu untuk tidak mengabaikan waktu dari pembaca beritanya. Jangan sampai terbuang sia-sia waktu dari pembaca berita saat tidak memetik manfaat dari membaca berita tersebut.
Untuk bisa memberikan manfaat, sudut pandang perlu diisi dengan kekayaan informasi. Semakin kaya informasi yang disajikan berita, semakin bermanfaat berita dibaca. (*)