Membuat Berita Menarik

Kepala Dinas PPKKI memberikan sambutan saat membuka pelatihan pembuatan website untuk SKPD se-Kabupaten Blora. (Kredit foto: Teguh Rudianto/blorakab.go.id)
Kepala Dinas PPKKI memberikan sambutan saat membuka pelatihan pembuatan website untuk SKPD se-Kabupaten Blora. (Kredit foto: Teguh Rudianto/blorakab.go.id)
Rabu Pahing, 23 Nopember 2016 14:46 WIB

SAAT memberi pelatihan singkat pengetahuan jurnalistik di Gedung Pertemuan Kantor Setda Kabupaten Blora, Selasa (22/11/2016), saya mendapat pertanyaan yang cukup menantang dari peserta: Bagaimana caranya membuat berita yang tidak menarik menjadi menarik?

Sebenarnya pelatihan tersebut bukan pelatihan jurnalistik melainkan pelatihan membuat website untuk SKPD se-Kabupaten Blora. Namun, saya akhirnya memberikan materi pengetahuan sedikit tentang jurnalistik. Itupun sudah saya rangkum dalam materi dari saya yang dibagikan panitia ke peserta. Memberikan materi ini saya pilih lantaran tak mudah bisa membuat peserta yang tak memiliki latar belakang dunia IT atau yang setidaknya peminat IT untuk bisa membuat website, apalagi website yang dinamis.

Sebab membuat website itu pekerjaan programmer backend dan desainer frontend. Tentang dua istilah ini saja mungkin mereka belum paham, bagaimana mau mengenalkan bahasa HTML (Hypertext Markup Language), CSS (Cascading Style Sheet), dan Javascript atau JQuery yang merupakan bahasa pemrograman client side. Ini belum mengenalkan PHP (Hypertext Preprocessor), bahasa pemrograman server side yang salah satu pemakainya adalah Facebook. Nah lho kan, masih ada istilah client side dan server side. Makanan apalagi itu? Jadi alangkah baiknya pembuatan website itu diserahkan ke ahlinya, dan pegawai di SKPD tinggal mengoperatori.

Jadi akhirnya saya pilih memberikan materi jurnalistik.

Kembali ke awal, menjawab pertanyaan ini tak mudah. Sebabnya ini bukan terkait dengan teori-teori membuat berita. Ada proses di peliputan yang akan membawa wartawan atau pembuat berita menemukan hal-hal menarik dari liputan yang diambilnya.

Saya memberikan contoh tentang kunjungan kerja seorang pejabat.

Bagi yang berpikir humas, kunjungan kerja adalah beritanya. Namun bagi yang berpikir wartawan, perlu dicari hal-hal menarik saat ikut dalam kunjungan tersebut. Hal-hal menarik apa saja tergantung temuan-temuan di lapangan. Ada proses berpikir kreatif dalam menemukan tema yang hendak diberitakan. Proses ini tergantung dari pemahaman apa-apa saja yang relevan dan tidak relevan yang hendak disajikan ke pembaca. Relevansi tentunya terkait juga siapa yang memberitakannya. Jika wartawan, akan ada unsur kritiknya dengan menyajikan data. Namun jika bawahan dari pejabat tersebut yang memberitakannya, hanya datanya saja disajikan sudah cukup.

Data dalam berita adalah sesuatu yang juga menarik. Contoh lain semisal kunjungan pejabat ke sekolah rusak. Tak hanya menyajikan data-data apa saja kerusakan sekolah tersebut, bisa saja diambil data tentang sekolah tersebut. Berapa siswanya, berapa gurunya, ada berapa sekolah di desa tersebut misalnya, dan seterusnya data-data yang relevan tentang sekolah yang dikunjungi itu. Lalu bisa ditambah data tentang berapa jumlah anggaran berjalan, dan yang akan disiapkan.

Menyajikan data ini yang disebut dengan data driven journalism. Hanya persoalannya adalah keberanian dari bawahan untuk mengakses data-data tersebut untuk disajikan ke website pemerintah. Lain soal jika yang mengakses data tersebut wartawan yang dilindungi undang-undang pers dan undang-undang keterbukaan informasi.

Contoh lain disampaikan ke penanya saat saya memintanya untuk memberikan contoh, "Bagaimana memberitakan antrian di Disdukcapil agar menarik? Sementara kan antriannya tidak menarik?"

Sebenarnya antrian tersebut juga menarik untuk diberitakan. Namun, ada persepektif lain yang bisa diambil. Ini yang di jurnalistik disebut dengan angle berita, atau sudut pengambilan berita. Bisa saja angle berita yang diambil adalah bagaimana etos kerja dari pegawai yang melayani antrian tersebut.

Jadi membuat berita tidak menarik menjadi menarik tidak ada hal baku. Butuh proses berpikir kreatif untuk menemukan gagasan-gagasan angle berita apa agar menarik saat melakukan peliputan di lapangan. (*)