Blora - Kasiman Untuk Cak Nun

Cak Nun di tengah Jamaah Maiyah di Dukuh Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.
Cak Nun di tengah Jamaah Maiyah di Dukuh Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.
Sabtu Kliwon, 22 Oktober 2016 20:06 WIB

"RASULULLAH hadir, Rasulullah hadir," gema suara Emha Ainun Nadjib berkumandang, coba menenangkan ribuan jamaah yang tiba-tiba serentak berdiri tatkala rintik hujan menyambut sholawat.

Nada sholawat terus dilantunkan dari atas panggung, merayapi pendengaran-pendengaran jamaah melalui pengeras suara, untuk tak mengusik pikiran dan hati yang tertuju pada Allah dan Rasulullah Muhammad SAW. Hujan bukanlah halangan. Hujan juga bukan untuk dikeluhkan. Hujan adalah rahmat Tuhan untuk disambut dengan kebahagiaan, dalam suasana acara apapun.

"Sering kita mengeluh saat mengadakan acara hajatan lalu hujan datang," ucap Cak Nun usai bersholawat, dan hujan yang telah lewat beberapa saat lalu. 

Rintik hujan itu hanya sekejap. Seolah hanya mampir untuk turut bersholawat di seluas lapangan yang ada di Dukuh Bandar, Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, Jumat hampir tengah malam (21/10/2016). Saya dan rombongan, terdiri 4 orang, berangkat dari Blora hampir jam setengah delapan malam.

"Ayok, siap-siap, kita nonton Cak Nun. Ini kami sudah sampai di perempatan Seso," telepon seorang teman.

Persiapan menulis berita pun saya tinggalkan sejenak, bergegas berganti pakaian, mengantongi kamera dalam tas pemberian Kamajaya, Direktur PT Gendis Multi Manis, menyiapkan notes dan alat tulis dalam genggaman.

Saya memang terbiasa dengan perlengkapan alat kerja wartawan. Pekerjaan sebagai wartawan yang saya geluti belasan tahun ini seolah tak bisa lepas dari tak membawa alat-alat kerja untuk acara-acara yang layak ditulis. Dan acara Cak Nun ini layak untuk saya tulis.

"Lho, bukannya acara di Bojonegoro?" tanya saya di telepon.

"Itu Kasiman dekat saja, menyeberang dari Cepu sudah sampai," jawab teman yang mengajak saya itu.

Desa Batokan itu memang tak jauh dari Cepu. Saya baru tahu. Jarak tempuh dari Cepu tak lebih dari seperempat jam. Itu bila pakai kendaraan roda empat. Akan lebih cepat menggunakan kendaraan roda dua.
Kala kendaraan roda empat kami masuk kota Cepu, saya kira akan menyeberang jembatan bengawan arah Padangan. Ternyata tidak. Dari perempatan yang ke kanan menuju stasiun Cepu, kami belok kiri, lalu melintasi Ngareng, Pusdiklat Migas Cepu, dan menyeberang jembatan.

"Ini sudah Bojonegoro," celetuk teman di samping saya. Kami duduk di jok tengah.

Kami memasuki Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro. Logat warga di sini ternyata belum Jawa Timuran. Ini selentingan saya dengarkan saat kami tiba di tempat acara.

Sesampainya di pertigaan, pemuda-pemuda berkopiah merah putih khas Jamaah Maiyah menghentikan kendaraan kami.

"Ini kami mau ke pengajian," ucap kawan yang mengemudi.

"Oh, berhenti dulu ya, kami catat kendaraannya," sahut salah seorang pemuda.

Bangku panjang diletakkan di tengah jalan, diduduki beberapa orang, sebagai penanda di jalan tersebut tengah ditutup untuk sebuah acara.

"Seikhlasnya saja," pinta pemuda berkopiah merah putih seraya memberikan secarik kertas. Mungkin sejenis karcis parkir.

Seorang kawan yang duduk di sebelah pengemudi merogoh dompetnya dan memberikan selembar sepuluhan ribu.

"Nanti belok kanan, terus saja, ada pengatur parkirnya," pemuda berkopiah merah putih mengarahkan jalannya kendaraan kami.

Saya baru ingat kalau punya kopiah seperti itu di rumah. Saya lupa membawanya.

"Kalian sih mendadak ajak-ajaknya," protes saya ke teman-teman semobil.

Kopiah itu saya dapatkan beberapa bulan lalu, di bulan puasa. Saya dapatnya saat membeli buku Orang Maiyah yang ditulis Cak Nun. Hadiahnya: Peci Maiyah. Saya belum habis membaca buku itu. Namun, saya sudah menangkap bagaimana itu Orang Maiyah.

Acara Cak Nun di Bojonegoro ini dalam rangka sedekah bumi Desa Batokan. Dua layar besar tersedia untuk jamaah yang tak dapat tempat duduk di lapangan. Satu di pinggir jalan, satunya di lorong masuk ke lapangan memenuhi lebar lorong.

Aneka pedagang memenuhi pinggir-pinggir jalan, seolah sedang ada pasar malam. Saat memasuki lorong yang di muka jalannya berdiri tiang serupa gapura bertuliskan ucapan selamat datang Cak Nun dan KiaiKanjeng, rumah-rumah yang dilintasi jamaah menuju lapangan berubah jadi kios dadakan menyajikan aneka jajanan dan minuman. Berkah buat warga sekitar.

Tak ketinggalan ada Pojok Ilmu. Ini tempat Progress, manajemen Cak Nun, menjajakan merchandise Cak Nun dan KiaiKanjeng. Seorang jamaah berjilbab yang duduk di sebelah saya di depan panggung sewaktu acara, memperlihatkan kaos KiaiKanjeng yang masih bungkusan plastik. Mungkin ia belinya dari Pojok Ilmu itu tadi.

Saat kami tiba di lapangan tempat acara, ribuan jamaah telah duduk memadati lapangan. Acara puncak belum akan dimulai. Sebagian jamaah berdesakan menuju sisi panggung sebelah kiri.

"Kita ke sana saja," ajak saya.

Berdesakan, berjalan menuju lokasi yang saya tunjuk. Di sana dekat sawah. Padi telah menghijau. Seorang pedagang menawarkan kertas sampul buku ke kami setibanya di sana.

"Untuk tempat duduk," pedagang itu menawarkan.

Seperti biasa, saat acara di desa-desa, Cak Nun akan mengawali dengan mengenal desa tersebut.

"Lita’arafu," demikian Cak Nun biasa menyebutnya.

Adalah saling mengenal satu sama lain, untuk berkasih sayang menjauhkan diri dari perselisihan dan pertengkaran.

Sangat kebetulan sekali, nama desa yang acara ini dilangsungkan bernama Batokan. Cak Nun pun mengupasnya dengan simbol kelapa, sebagai satu kesatuan yang dapat diurai kemanfaatannya dalam setiap bagian yang ada.

Simbol kelapa ini sering digunakan Cak Nun di mana-mana untuk terus mengingatkan Indonesia dan Islam agar tak berpecah belah.

"Boleh diambil seratnya, tapi jangan menyebut diri sebagai kelapa. Boleh diambil santannya, tapi dilarang mengklaim dirinya sebagai kelapa," demikian Cak Nun selalu mengingatkan.

Bahasan berlanjut pada hasil kerajinan kayu desa setempat, yang disimpulkan dalam sistem ekonomi satu kesatuan, yakni: berproduksi (bahan baku), pengolahan (teknologi), dan perdagangan (penjualan).

Bukan Cak Nun jika tak menyinggung pemerintah dalam setiap acaranya. Di desa ini Cak Nun tak ketinggalan menyinggung pemerintah sebagai buruh dari rakyat.

Sayang, saat acara dilangsungkan sesi tanya jawab, teman-teman sudah keburu mengajak pulang.

"Nanti di Rembang lagi," hibur salah seorang dari mereka. (*)