Membangun Ketakwaan, Puasa Saja Tak Cukup

Rabu Legi, 16 Mei 2018 17:04 WIB

puasa-2018RAMAI ucapan selamat menyambut Ramadhan berdatangan di pesan-pesan instan dan lini masa media sosial. Ucapan yang saling mendoakan agar puasa berjalan lancar, saling meminta dan memberi maaf, kadang disertai gambar statis maupun bergerak. Ucapan-ucapan ini perlu kita sambut dengan kegembiraan, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barokah, penuh ampunan, penuh kasih sayang, dan tentu penuh dengan latihan menempa diri guna meningkatkan ketakwaan.

Sebagaimana FirmanNya dalam Quran yang menyebut pencapaian puasa adalah derajat ketakwaan yang tinggi. Pencapaian ini dapat bertolak dari iman yang mumpuni, sebagaimana mereka yang diajak berpuasa di Ramadhan adalah orang-orang beriman. Mustahil target pencapaian puasa dapat diraih bila iman belum dibangun.

Membangun iman butuh waktu yang tak pendek. Di bagian lain dalam Quran disebutkan bahwasannya salah satu jalan untuk menempuh pencapaian iman adalah melalui sholat yang khusyuk, selain menjauhkan diri dari perkataan yang tiada guna dan yang telah menunaikan zakatnya. (Taddabur dari surah Al-Mu'minun)

Dua jalan di atas merupakan rukun dalam Islam.

Jalan sholat untuk pencapaian iman tak cukup sekedar menggugurkan kewajiban, namun ada kekhusyukan yang perlu dilalui sebelum sampai di tempat tujuan, yakni iman. Dengan kekhusyukan, ia akan membangun kesadaran untuk menjauhkan diri dari perkataan yang tiada guna, juga membayar zakatnya, serta memperhatikan hal-hal lain untuk memelihara imannya agar tak pergi menjauh lagi.

Jika iman telah minggat dari diri seseorang, di situ tempat puasa akan menjadi sia-sia, sebab pencapaian dari yang dikerjakan tak dapat diraih. Maka berimanlah sebelum berpuasa. Tak sekedar larut dalam hiruk pikuk penyambutan Ramadhan, namun ada yang telah dibangun selama berhari-hari, berpuluh dan beratus hari, bahkan beribu hari untuk tetap hidup bersama iman sebelum membangun ketakwaan. Wallahu a'lam bishawab. (*)