Membangun demokrasi di Blora ala CdB

Bupati Blora Arief Rohman mencatat masukan-masukan dari politisi warga CdB.
Bupati Blora Arief Rohman mencatat masukan-masukan dari politisi warga CdB.
Minggu Pon, 22 Mei 2022 18:30 WIB

Ada pemeo yang umum kita dapati dalam pergaulan sehari-hari, "politik itu kejam." Ada lagi pemeo, "tak ada kawan dan musuh abadi dalam politik, melainkan yang abadi itu kepentingan."

FAKTANYA memang demikan. Tapi fakta-fakta ini tak menghalangi sebuah ikatan kebatinan untuk menjalin peseduluran di antara politisi. Saya menemukan jalinan ini saat politisi-politisi kawakan yang terkumpul dalam forum obrolan whatsapp group Cerita dari Blora (CdB) bertemu di rumah Pak Kusnanto, diacarakan Bupati Blora Arief Rohman dalam agenda ngobrol santai. Kebetulan saya yang termasuk yunior dan berusia muda ikut dalam acara tersebut.

Pak Kus, begitu kami menyapanya, adalah politisi kawakan yang pernah menjadi Ketua DPRD Kabupaten Blora. Selain itu ada Pak Bambang, lengkapnya Bambang Susilo. Ia juga pernah menjadi Ketua DPRD Blora. Ada lagi Joko Sembung, sebutan Joko Supratno yang melang melintang di dunia politik sejak awal reformasi. Ada pula Bagong Suwarsono yang biasa disapa Kang Bagong—lainnya menyapa dengan Ayah BG, Yantinah yang kerap disapa Bude atau Tante, Joko Mugiyanto yang biasa dipanggil Jek atau Bang Jek, dan Dhe Dar yang menjadi sapaan Darwanto yang sebentar lagi aktif jadi anggota DPRD Kabupaten Blora. Lainnya ada orang dari institusi penyelenggaran pemilu, ada insinyur juga yang akrab dengan dunia politik, dan saya sendiri pernah nyaleg dan bersentuhan dengan dunia politik sejak 2013.

Di acara tersebut, saya diberi kesempatan berbicara oleh Kang Bagong yang menyebut saya pemilik CdB. Tak ada pikiran saya sebelumnya jika acara tersebut merupakan acara yang dibingkai dalam CdB. Mau tak mau, saya yang tak terbiasa menjadi pembicara publik, apalagi di hadapan para politisi kawakan, akhirnya menyampaikan kata-kata. Tak banyak yang saya sampaikan, hanya sekedar tentang CdB. Itupun sebetulnya gak lengkap, seperti apa yang saya pikirkan dalam tulisan ini. Sehingga saya yang terbiasa menulis dan tak terbiasa berbicara, menuliskan tentang ini.

Bagi saya, CdB bukan milik saya. CdB adalah milik orang-orang Blora, yang kebetulan saya prakarsai dari whatsapp grup wartawan dan pejabat pemerintahan. Dalam perjalanannya CdB saya jadikan forum demokratis yang mempertemukan berbagai kelompok kepentingan. Berbagai unsur kepentingan dimasukkan ke dalamnya, termasuk orang-orang Blora yang menetap di luar kota. Ada yang di Yogyakarta, Jakarta, dan Semarang. Di kemudian hari, saya menjadikan CdB sebagai pembelajaran demokrasi dalam relasi digital, setidaknya bagi saya pribadi. Apalagi dunia saya adalah tulis-menulis, komunikasi dengan tulisan menjadi kebiasaan saya sejak media sosial booming jelang akhir dekade pertama abad 21.

Di era media sosial, orang-orang Blora pernah punya wadah di facebook, namanya Opini Blora. Wadah ini dibikin pada akhir 2013 melalui kopi darat pengguna facebook dari berbagai tempat di Blora, dengan dukungan orang-orang Blora di luar kota yang mempertemukan kami di facebook. Sejak itulah saya mulai mengenal banyak orang-orang Blora, yang sepanjang 3 tahun sebelumnya saya mengenal sebagian kecil orang-orang Blora dari teman sekolah. Saya menjadikan media sosial sebagai alat edukasi, selain alat komunikasi. Forum Opini Blora di facebook saya jadikan alat pembelajaran demokrasi. Kebetulan saya bukan admin grup, sehingga saya tidak punya kapasitas mengeluarkan orang yang berbeda pendapat dengan saya dari grup. Dalam perjalanan, forum tersebut semakin sulit dijadikan tempat untuk pembelajaran demokrasi. Silang pendapat berbuntut pada putus pertemanan, terutama saat demokrasi pemilihan pada 2014 dan 2015. Mereka yang diserahi admin tidak menghidupkan iklim demokrasi dalam relasi digital, namun justru membuahkan permusuhan akibat perbedaan pandangan politik.

Belajar dari wadah facebook, saya menjadi tercerahkan saat mengelola wadah CdB dalam jumlah orang yang terbatas. Meski dalam jumlah terbatas dan tak seperti facebook yang jumlahnya tak terbatas, pada prinsipnya relasi digitalnya tetap sama. Bedanya dalam jumlah terbatas di whatsapp, selain orang-orangnya jelas, juga relasi sosialnya bisa lebih intens dibanding relasi sosial yang dibangun dari relasi digital di facebook. Tak heran jika banyak dari pengguna grup facebook beralih ke grup whatsapp. Dari sinilah peseduluran bisa ditumbuhkan meski membawa kepentingan yang beragam, namun pada intinya sama: kemajuan Blora yang dibangun dari demokrasi yang sehat.

Pada musim pandemi, kami memprakarsai grup untuk melakukan kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Menghimpun dana secara kolektif, lalu kami gunakan untuk mendukung anggota yang terkena covid. Pada bulan puasa, kami mengadakan buka bersama dengan mempertemukan orang-orang yang terbiasa mengobrol di udara dalam forum kopi darat. Kami sempat kabarkan ke Gus Arief, sapaan Bupati Blora yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan kopi darat dengan warga yang ada di grup. Terlaksanalah pada Sabtu, 21 Mei 2022.

Pada silaturahmi buka puasa bersama pada hari kedua belas tersebut, Kang Bagong mencetuskan semboyan panjang umur peseduluran untuk CdB. Bagi kami, peseduluran tak harus sama semua isi kepalanya. Bahkan saudara sekandung beragam pemikirannya, beragam keinginannya. Jika segala perbedaan pemikiran dan keinginan bisa dirawat dalam peseduluran ala CdB, panjang umur peseduluran akan menjadi semangat berbarengan untuk memikirkan kemajuan Blora.

Pada silaturahmi dengan CdB pada akhir pekan ketiga Mei 2022 tersebut, Gus Arief menyatakan tidak anti kritik. Saya menjadi saksi bahwa ia memang seorang politisi muda yang tidak anti kritik, sekalipun kritik tersebut tentang sikap kepribadiannya. Saya pernah melakukannya, dan dia menyatakan terima kasihnya atas kritik saya tersebut yang saya sampaikan secara langsung. Inilah iklim politik yang ingin dibangun CdB. Iklim politik yang politisinya tidak anti kritik akan menciptakan kehidupan demokrasi. Sebaliknya, saat politisinya menciptakan iklim politik yang anti kritik, maka kehidupan yang autokrasi akan terbentuk. Pemimpinnya akan berubah menjadi otoriter. Kalau ia menjadi admin CdB, ia akan mengeluarkan orang dengan sewenang-wenang karena ia punya kapasitas.

Saya pernah melakukannya, tapi hanya sandiwara ala admin CdB. Kalaupun ada yang tidak bersandiwara, anggap saja saya menjadikannya sebagai haters. ***