Kala pekerjaan wartawan jadi alat serang
SAYA cukup gerah dengan profesi yang sudah saya geluti sejak April 2002. Genap 20 tahun jadi wartawan, baru merasakan gerah belakangan ini. Gerah lantaran banyaknya orang yang bermunculan mendaku dirinya wartawan, namun tidak bisa menulis. Bisanya hanya copy paste berita-berita yang dirilis oleh humas. Kalaupun sudah merasa bisa menulis, enggan membaca untuk memperkaya khazanah tugas-tugasnya sebagai wartawan. Akibatnya kerap wartawan membiarkan dirinya diperalat untuk kepentingan politik kelompok-kelompok yang berseberangan. Bahkan sering kali pekerjaan wartawan dijadikan alat pemukul bagi pihak-pihak yang berseberangan atau kelompok yang tidak disukai.
Mentor saya di Harian Cenderawasih Pos, harian di Jayapura, Papua tempat saya pertama kali bekerja sebagai wartawan sejak April 2002, mengajarkan tentang fungsi-fungsi yang dikerjakan oleh wartawan. Ada fungsi edukasi, hiburan, dan kontrol sosial. Belakangan saat saya dikenalkan nama Bill Kovach oleh Andreas Harsono, mentor saya di workshop jurnalistik 3 tahun kemudian, saya memiliki tambahan khazanah yang lebih lengkap tentang fungsi-fungsi kewartawanan.
Bill Kovach adalah wartawan gaek yang sejak 1989 menjadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Harvard University. Ia melakukan penelitian dengan wawancara ratusan wartawan di Amerika Serikat tentang tugas-tugas kewartawanan. Dari sinilah lahir karya berupa buku tentang elemen-elemen jurnalistik. Ada 9 elemen jurnalistik yang menjadikan fungsi kewartawanan menjadi penting, salah satunya fungsi pemantau independen terhadap kekuasaan.
Meski menjadi pemantau kekuasaan, pekerjaan wartawan memiliki elemen-elemen dasar yang menjadikan pekerjaannya tak jauh beda dengan seorang peneliti. Kovach menyebut tentang pentingnya verifikasi sebagai esensi dari pekerjaan wartawan, sebagaimana seorang peneliti melakukan verifikasi tentang temuan-temuannya. Kovach juga memberikan pemahaman tentang kepada siapa loyalitas seorang wartawan diberikan, yakni kepada publik, bukan kepada kelompok tertentu.
Mudahnya orang membuat media online menjadikan mereka ramai-ramai bekerja sebagai wartawan. Dengan menjadi wartawan, mereka bisa menyerang kelompok tertentu yang tidak disukai. Sedikit fakta dan temuan di lapangan dicampur aduk dengan opini tanpa melakukan verifikasi dengan lebih disiplin untuk mendapatkan fakta yang lebih banyak. Kebenaran menjadi kabur, padahal elemen mendasar dari jurnalisme menyatakan jika kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran. Lantaran dijadikan alat serang, berita yang disajikan ke publik juga sepotong-sepotong, tidak komprehensif dan proporsional.
Contoh terbaru di Blora adalah berita yang menyerang TP2D, singkatan dari tim percepatan pembangunan daerah. Tak bisa disangkal jika berita-berita yang disodorkan ke publik bersifat serangan, jauh dari pemantau independen terhadap kekuasaan. Pantauannya lebih dikendalikan kelompok kepentingan tertentu, bukan dimaksudkan untuk menjaga loyalitasnya terhadap publik.
Jika ingin lebih proporsional dan komprehensif sebagai salah satu elemen jurnalistik yang dikenalkan Kovach, berita tentang TP2D yang disajikan akan lebih menyorot pada komparasi fakta-fakta percepatan pembangunan. Salah satu isu percepatan pembangunan yang dinanti publik di Blora adalah integrasi pertanian dan peternakan yang cetak birunya dibuat pada 100 hari pertama pemerintahan Bupati Arief Rohman. Ada garis waktu yang dibuat dalam cetak biru tersebut. Bagaimana perkembangan dari rencana pembangunan dalam cetak biru integrasi pertanian dan peternakan, wartawan bisa memperkaya pengetahuan publik dengan berita-beritanya yang dikaitkan dengan kajian TP2D sebagai bahan kritik. Inilah hal penting yang menarik dan relevan untuk dikaitkan dengan isu TP2D yang dijadikan bahan pemberitaan. Sayangnya, berhubung khazanah wartawannya dangkal menjadikan berita TP2D lebih bersifat serangan, dan tidak menarik dan relevan bagi publik, sebagaimana elemen yang lain dari jurnalisme adalah berupaya membuat hal yang penting itu menarik dan relevan. ***