Idealisme seorang ASN
“AKU sempat terpikirkan untuk demo sendirian di alun-alun Blora waktu pertama diterima jadi PNS di Pemerintahan Kabupaten Blora.”
“Tahun kapan itu?”
“2005.”
Tahun itu saya masih di Papua, tepatnya di Jayapura menjadi jurnalis video lepas setelah 9 Januari 2005 mendapat surat pemutusan hubungan kerja dari Metro TV. Mulai dari Indosiar, ANTV, dan terakhir Lativi, saya berkirim gambar hasil liputan di lapangan di tahun tersebut, selain menulis untuk Majalah Gatra.
Di tahun itu teman ini, yang terpikir untuk menggelar demo sendirian merasa jengah dengan kondisi kerja di lingkungan pemerintahan. Ia merasa budaya kerjanya tidak sesuai dengan harapannya.
“Setidaknya saya orang asli Blora merasa sayang dengan kondisi seperti itu. Saya tetap ingin Blora menjadi baik. Saya merasa nduweni Blora sehingga pikiran saya tercurah untuk Blora,” katanya di Rabu siang pekan terakhir Januari 2020 di rumah makan depan RS. Permata.
Di rumah makan itu kami berempat mengobrol dari jam satu hingga hampir jam setengah 6. Obrolan panjang tentang Blora dan orang-orangnya, termasuk mereka yang masuk dalam birokrasi dan siapa-siapa dari generasi senior birokrasi yang punya potensi untuk nuani, menjadi orang tua yang bisa ngemong.
Model kepemimpinan yang ngemong memang menjadi model favorit saya dalam 3-4 tahun terakhir. Model kepemimpinan ini tak hanya memiliki kemampuan spesialis, tapi juga generalis. Ia mampu berkomunikasi dengan tepat, bisa panjang juga bisa singkat. Ia memiliki kelebihan yang membuat orang lain sungkan. Ia tak membuat orang patuh dan tunduk karena takut padanya, tapi segan padanya. Anak buah taat bukan lantaran takut dipindah tapi akan merasa tak enak sendiri jika tak bekerja dengan baik ataupun berbuat yang melenceng dari relnya.
“Kalau kepala bidang saya termasuk orang yang pintar ngemong. Secara kemampuan teknis memang ia tak punya. Tapi ia pintar ngemong seksi-seksi di bidangnya untuk saling mengisi dan bersinergi,” ujarnya.
Teman ini seangkatan dan sejurusan di SMA 1 Blora. Kami sama-sama lulusan 1994 dari SMA favorit di Blora di jaman itu. Selama hampir 4 tahun ia menggeluti bidang yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Sepanjang dua tahun pertama ‘dilempar’ di bidang tersebut, suasana kerja seperti neraka. Selama itu ia selalu dicurigai oleh kepala bidangnya. Bisa jadi trauma akibat dikerjai oleh anak buahnya sebelumnya. Tapi terlalu bodoh jika trauma itu dijadikan alasan.
“Kalau kepala bidang saya yang ini pinter, Thot,” katanya.
“Untuk mengetahui siapa dan bagaimana anak buahnya, ia telusuri rekam jejak kerja dari anak buahnya. Jadi ia tahu bagaimana karakter kami-kami yang jadi anak buahnya. Ia tahu problem atau peristiwa-peristiwa yang telah kami lalui di tempat kerja sebelumnya.”
Lantaran tak dipercaya atasannya langsung dan selalu tak menerima laporan-laporan yang ia buat, ia pun dengan keberaniannya langsung melangkahi kepala bidangnya dan langsung memberikan laporan ke kepala dinasnya. Ia lakukan saking jengkelnya, dan merasa perlu ada perubahan suasana kerja yang ia hadapi sehari-hari. Pada akhirnya, ia pun dibelani oleh kepala dinasnya, dan berikutnya ia langsung melaporkan pekerjaannya ke kepala dinasnya tanpa melalui kepala bidangnya.
Dua tahun berikutnya, terlebih setelah kepala bidangnya baru, ia pun bekerja dengan giat. Bukan untuk mendapat perhatian dari atasan atau pimpinan pemerintahan, tapi semata berkarya untuk masyarakat Blora. Ia tak peduli, dari hasil tinggalannya di seksi yang ia tangani akan membuat karirnya menanjak atau tidak. Bahkan ia tak begitu menyukai ketika diajak untuk bertemu pimpinan pemerintahan, karena bagi dia tidak ada kaitan langsung dengan pekerjaannya. Kecuali jika menghadap. Itu beda. Sebab bila menghadap, akan berkaitan dengan bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kalau bertemu akan melebar, bahkan bisa sampai di kepentingan politik. Ini yang ia hindari. Sebab profesionalitas seorang ASN adalah yang berkaitan dengan tanggung jawab tugas dan pekerjaannya. Tidak lebih tidak kurang.
Di tahun ini ia akan membuat pekerjaan besar yang kelak akan dikenang sebagai warisannya. Pekerjaan besar bernilai miliaran ini dibiayai oleh anggaran dari APBN, dan ia lebih memilih konsentrasi di pekerjaannya ini ketimbang mencari link untuk mengamankan posisi.
Bagi saya, model-model pekerja seperti ini di birokrasi belum begitu banyak. Saya belum banyak menemukan, tapi bisa jadi saya memang belum ketemu dengan orang-orang model pekerja seperti ini. Saya yakin, mereka yang usia di bawah saya yang ada di birokrasi yang memiliki semangat kerja perubahan dan membuat karya nyata untuk masyarakat tidak sedikit. Tinggal pimpinan pemerintahan yang perlu memberikan model keteladanan, dan level top manajer hingga level menengah di pemerintahan yang perlu memberikan model kepemimpinan yang ngemong. Sebab ngemong saja tak cukup. Perlu keteladanan. Tinggal berbagi, siapa yang bagian memberikan teladan, dan siapa-siapa saja yang bagian ngemong. Lebih bagus memiliki kemampuan kedua-duanya. ***